10 Tip untuk Kesuksesan Eksekusi Strategi

 

Baru-baru ini saya melakukan survey dengan responden hampir 141 manajer dan eksekusi puncak di Indonesia. Temuannya ada lima faktor penyebab kegagalan implementasi strategi.

 

Pertama, komunikasi yang tak jelas menyangkut akuntabilitas dan tanggung jawab. Kedua, pertukaran informasi yang kurang baik antar individu ataupun antar unit yang bertanggung jawab atas implementasi strategi. Ketiga, strategi itu sendiri memang tidak jelas. Keempat, ketidakmampuan mengelola perubahan secara efektif atau menyelesaikan resistensi internal. Dan terakhir, kurangnya rasa memiliki atau keterlibatan staf kunci dalam menyusun strategi dan implementasinya. Yang tak kalah menarik, kelima hal tersebut juga dialami para manajer dan eksekutif di Amerika Serikat — hanya urutannya yang berbeda – sebagaimana dilaporkan Prof. Hrebiniak dari Wharton Business School.

 

Berdasarkan riset itu, maka ada 10 tip yang dapat digunakan untuk mengurangi hambatan di atas agar strategi dapat diimplementasikan seperti yang direncanakan.

 

(1) kenali bisnis Anda. Apakah anda berada pada industri yang sedang berkembang cepat dan dengan persaingan ketat? Jika ya, strategi implementasi harus fleksibel terhadap perubahan dengan ketidakpastian yang tinggi. Terlepas dari sector industri yang digeluti, jika Anda seorang CEO, atau menduduki posisi puncak lainnya, sebagian besar masalah yang dihadapi juga penuh ketidak pastian sehingga tantangannya adalah bagaimana membuatnya logically make sense.

 

(2) Tentukan sasaran yang focus (less for more). Sasaran bisnis kini semakin sulit dicapai sehingga perusahaan harus menerjemahkan setiap inisiatif dengan jelas. Sasaran yang focus akan memudahkan penyusunan strategi dan implementasinya. Lakukan brainstorming untuk menerjemahkan focus tersebut.

 

(3) Tetapkan siapa yang akuntabel dari setiap sasaran. Akuntabilitas hanya melekat pada seseorang dan dia pula yang harus membuat setiap keputusan akhir, sedangkan tanggung jawabnya dapat didelegasikan ke beberapa orang. Buatlah accountability and responsibility matrix, tetapkan key performance indicator dan dapatkan komitmen secara tertulis dari semua yang terlibat.

 

(4) Sinkrokan strategi yang disusun dengan tiap-tiap fungsi, seperti pemasaran, operasional, keuangan dan SDM. Setiap fungsi selalu memiliki keterbatasan, baik dari struktur maupun infrastrukturnya, dan ini unik untuksetiap perusahaan. Perusahaan yang memilih pertumbuhan dalam strategi bisnisnya dapat saja diterjemahkan oleh bagian pemasaran dengan cara menawarkan berbagai varian produk. Namun, jika dari segi operasional tidak didukung dengan kemampuan manghasilkan produk yang bermacam-macam secara efisien, strategi pemasaran tidak selaras dengan operasional. Hasilnya, pemasaran bisa menjual lebih banyak, tapi operasional menjadi lebih mahal, dan ujung-ujungnya, profit berkurang atau malah rugi.


(5) Ciptakan struktur organisasi yang terintegrasi. Strategi akan memengaruhi struktur organisasi. Dan struktur organisasi yang terintegrasi akan memengaruhi efisiensi dan efektivitas Anda dalam menimplementasi strategi tersebut.

Strategi (low-cost, diferensiasi, global), kebutuhan efisiensi (fungsional) atau efektivitas (unit bisnis), hubungan antara pasar dan teknologi, dan tingkat pertumbuhan organisasi akan menentukan strukturyang sesuai, seperti sentralisasi, desentralisasi, fungsional, divisional, matriks atau campuran. Perlu diperhatikan bahwa, berdasarkan riset kami, organisasi matriks adalah yang paling dirasakan sulit dalam implementasi.

 

(6) Terapkan “konsep” manajemen proyek. Ini merupakan salah satu cara untuk memilah sasaran untuk tiap-tiap unit bisnis, tim atau individu. Hasil survey kami menunjukan bahwa sebagian besar responden mengetahui “telah” terjadi masalah dalam implementasi jika mengalami keterlambatan. Manajemen proyek akan membantu implementasi berlangsung tepat waktu, sesuai dengan anggaran, dan memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan.

 

(7) Perhatikan masalah komunikasi. Berdasarkan survey, masalah komunikasi merupakan sumber kegagalan implementasi utama. Ada tiga hal yang perlu mendapatka perhatian, yakni perencanaan (informasi apa yang diperlukan, oleh siapa, kapan, dan bagaimana menyampaikannya), distribusi informasi (tersedia pada saat dibutuhkan), dan pelaporan (status report, progress, forecasting, diseminasi, lessons learned). Hasil riset kami menunjukan, komunikasi informasi lebih disukai daripada yang formal. Maka di samping komunikasi formal di atas, alur komunikasi informasi juga harus tetap diperhatikan. Tanpa disadari, kadang-kadang tanpa disengaja kita meeting di hallway atau pantry, tapi hasilnya cukup memuaskan.

Disamping itu, sediakan informasi yang tepat dan ciptakan sitem untuk berbagi informasi dengan knowledge management. Menurut responden kami, hal ini masih sulit, apalagi antar departemen atau antar-unit bisnis. Yang membuat makin sulit adalah informasi yang dibagi kadang-kadang diragukannya keakuratannya.

 

(8) Lakukan pengukuran. Pilihlah sasaran jangka panjang dan pendek yang akan diukur dan jangan terlalu banyak agar biasa focus, mudah dalam control, dan mendapatkan bobot (perhatian) yang lebih. Jika Anda memberikan stretch target, perhatikan insentif yang sesuai. Stretch target tanpa dukungan akan menghasilkan stress atau burn-out. Sebaliknya dukungan akan menghasilkan suasana comfort zone seperti di country-club. Metode pengukuran dengan Balanced Scorecard yang tepat dapat memberikan motivasi dan implementasinya tidak melenceng dari sasarannya. Perangkat lain Six Sigma atau PDCA dapat membantu melakukan perbaikan proses bisnis secara terukur. Jangan memakai berbagai perangkat, jangan pula berganti-ganti, karena akan membingungkan dan sulit membandingkan kinerjanya.

 

(9) Buatlah dokumentasi implementasi. Lebih dari 60% responden mengakui bahwa implementasi lebih sulit dari pada formulasi strategi. Ini berarti banyak sekali pengalaman berharga yang didapat sewaktu implementasi, baik bagi individu maupun organisasi. Jika ini dapat dikelola dengan baik, akan menjadi bekal untuk operations excellence dan internal (organic) growth, ini juga akan menjadi sumber perbaikan proses bisnis dan inovasi yang merupakan asset dan kultur perusahaan yang tak dapat atau sulit ditiru. Karena itu, dokumentasi itu penting.

 

(10) Ciptakan teamwork yang kuat dengan memperhatikan chemistry orang-orang yang terlibat di dalamnya. Setiap anggota dalam tim inti harus memiliki values, sikap dan budaya yang sesuai. Walaupun tidak ditanyakan secara spesifik dalam survey, sekitar 30% responden menyebutkan bahwa budaya perusahaan adalah hal yang benar-banar harus diperhatikan. (mdgti)

 

JAKARTA : (Majalah SWA, 08/XXIV/ 17-29 April 2008)

Satu Balasan ke 10 Tip untuk Kesuksesan Eksekusi Strategi

  1. heru ss mengatakan:

    ini yg saya cari, tkasih ya.. artikelnya.
    salam kenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: